Memperbaiki “Citra Buruk” Guru Matematika

Sudah sejak lama kita mendengar (mitos) bahwa kebanyakan guru matematika itu “tampang”nya menyeramkan, menakutkan, serius, galak, serta orangnya sulit diajak basa-basi, terlalu “to the point”, sulit diajak senyum, dan berbagai citra buruk lainnya.

Karena citranya seperti itu ada juga yang berani menggambarkannya dengan sindiran. Sindirannya itu begini katanya, guru matematika itu mukanya seperti segi empat, mulutnya seperti segitiga, matanya seperti bola pingpong, kepalanya seperti bola sepak, dan telinganya seperti angka tiga. Bahkan ada juga yang lebih berani menyindir dengan kata-kata yang kasar. Semisal bahwa guru matematika itu adalah “biangnya horor” sepanjang jaman.

Tentunya citra-citra seperti tersebut tak sepenuhnya benar. Karena citra yang buruk seperti itu, siapapun Anda sebagai guru matematika tentunya perlu introspeksi diri, perlu memperbaiki diri, perlu mengubah citra tersebut menjadi citra yang baik.
Namun, bagaimana caranya? Bagaimana ya caranya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya akan memposisikan diri sebagai siswa. Dengan cara ini mudah-mudahan bisa lebih obyektif. Dengan cara ini mudah-mudahan Anda yang kebetulan menjadi bapak atau ibu guru matematika tak merasa diceramahi oleh saya yang belum tahu apa-apa ini, tak merasa dinasehati oleh saya yang belum berpengalaman ini. Dengan cara seperti ini, mudah-mudahan bapak atau ibu guru matematika sekalian menanggapi secara positif dan berusaha memperbaiki citranya.

Sebagai siswa yang belajar matematika, saya berharap bapak atau ibu guru matematika itu sebaiknya:

Jangan suka menakut-nakuti siswa dengan mengatakan bahwa matematika itu adalah pelajaran yang sulit alias sukar. Bila bapak atau ibu guru berkata seperti ini seringnya membuat mental kami (para siswa) jatuh dan lemah, kalah sebelum bertanding.

Jangan galak atau pura-pura galak. Bila siswa sering tidak mengerti dengan penjelasan bapak atau ibu guru baiknya beliau-beliau ini jangan langsung marah-marah dan menyalahkan seenaknya begitu saja. Baiknya beliau-beliau ini introspeksi diri, apakah mengajarnya itu sudah benar atau belum, apakah pendekatan pembelajaran yang digunakan itu sudah cocok atau belum.

Jangan suka menghukum siswa yang belum bisa atau belum mengerti. Semakin bapak atau ibu guru sering memberikan hukuman pada siswa-siswa yang belum mengerti, semakin membuat siswa takut, semakin siswa membenci pelajaran matematika ini, semakin siswa lari tak mau belajar. Jadi hukuman itu perlu dilakukan secara mendidik, bukan dengan cara membunuh kemauan belajar siswa.

Jangan memberi PR (Pekerjaan Rumah) seenaknya saja. Bapak atau ibu guru sebaiknya memberi PR sesuai proporsi siswa, jangan terlalu banyak pun jangan terlalu sedikit; Tidak terlalu sukar pun tidak terlalu mudah; PR yang diberikan hendaknya sudah dipersiapkan oleh bapak atau ibu guru sekalian, sudah dicoba dikerjakan oleh bapak atau ibu guru sehingga mudah memperhitungkan proporsi waktu yang diperlukan siswa. Jangan memberi PR seenaknya diambil dari buku yang belum tentu baik untuk melatih kami sebagai siswa (kalau cara ini dilakukan ini mengindikasikan bahwa bapak atau ibu guru tidak melakukan persiapan mengajar).

Menghargai siswa yang agak lamban memahami penjelasan materi yang bapak atau ibu guru ajarkan. Kami sebagai siswa juga ingin mengerti dengan pelajaran matematika, kami sebagai siswa juga ingin bisa bermatematika dengan gembira. Siswa mana yang tak ingin mengerti matematika? Siswa mana yang tak ingin pandai bermatematika? Jadi, tolong mohon kesabaran ibu dan bapak sekalian dalam mengajari kami.

Memberi kesempatan dan waktu pada siswa untuk mengerti dan memahami pelajaran matematika. Janganlah bapak ibu guru sekalian hanya memperhatikan siswa-siswa yang pandai saja. Jangan menjadikan siswa pandai sebagai tolak ukur mengerti atau tidaknya siswa di kelas. Tolong kami-kami ini (yang agak lamban menerima dan memahami materi) juga diperhatikan. Yang terjadi, seringnya bapak-ibu guru sekalian hanya memperhatikan yang pandai saja, menjadikan mereka ukuran mengerti atau tidaknya siswa secara keseluruhan; sedangkan kami yang agak lamban kurang terperhatikan, seringnya diabaikan, seringnya ditinggal begitu saja. Yang akibatnya kami terseret-seret tak sanggup mengikuti pelajaran.

Ketika mengajar bapak atau ibu guru sekalian janganlah terlalu kaku, janganlah membuat suasana tegang. Tapi buatlah suasana yang menyenangkan dan menggembirakan. Bila pembelajaran dilakukan secara kaku (terlalu serius dan kering), maka siswa cenderung bosan, jemu, bikin siswa stress sepanjang pelajaran. Sekali-kali dalam mengajar itu hendaknya diselingi dengan nasihat, sekali-kali diselingi dengan cerita, sekali-kali diselingi dengan humor. Sehingga suasana senang /menyenangkan dan menggembirakan itu tercipta di ruang kelas.

Cara mengajar yang dipakai bapak atau ibu sekalian janganlah “itu-itu” saja, tolong divariasikan. Sehingga siswa tidak bosan, tidak jenuh, tidak stress. Sekali-kali bikin kejutan buat kami, sehingga siswa tertarik, termanjakan secara asyik.

Bapak atau ibu sekalian jangan “memasang muka galak”, menakut-nakuti. Cobalah ramah kepada semua siswa. Jangan hanya ramah kepada siswa yang pandai dan mengerti saja. Siswa yang kesulitan begini juga perlu diramahi, sehingga siswa tak takut, tak sungkan untuk bertanya, tak sungkan untuk memberi pendapat, tak takut bila belum mengerti.

Memberi kami kesempatan untuk bertanya, untuk berdiskusi. Jangan hanya bapak atau ibu guru yang terus-terusan berceramah, mengoceh sepanjang pelajaran. Siswa juga punya potensi untuk berpendapat, mengajukan gagasan atau ide-ide yang bisa jadi sangat cemerlang.

Jangan suka meremehkan kemampuan siswa yang agak lamban menerima pelajaran. Karena tiap siswa mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Ketika siswa belum mengerti, janganlah melakukan cacian dengan perkataan-perkataan kasar. Semisal “Kamu itu bodoh amat sih! Dari tadi ga ngerti-ngerti!”, “Dungu dipiara!”; “Kamu itu bolot banget sih!”; “Bodo dipiara!”, “Dengkul-mu ditaro di kepala ya?” “Otakmu di taroh di mana? Di dengkul?”; dll (Ini cuma perkiraan saya saja, mohon maaf bila ada yang tersinggung. Mudah-mudahan tak ada guru matematika yang berkata sekeji yang di tulis barusan).

Ketika mengajar janganlah terlalu cepat, tolong perhatikan siswa yang baru belajar. Tak semua siswa yang bapak atau ibu guru ajar itu cepat mengerti materi pelajaran, tolong sesuaikan dengan kecepatan siswa yang baru belajar.

Janganlah terlalu menjaga jarak dengan kami-kami (siswa). Cobalah dekati kami, ajak kami ngobrol, ajak kami diskusi di luar kelas. Sehingga bila kami bermasalah, bila kami kesulitan memahami pelajaran membuat kami tak sungkan untuk bertanya, tak sungkan untuk berpendapat. Dengan cara ini kewibawaan ibu-bapak sekalian insya Allah tak akan berkurang bahkan mungkin akan meningkat berlipat-lipat.

Jangan merasa bangga bila banyak siswa menjadi tak mengerti dengan materi yang diajarnya. Beberapa kali terjadi ada guru yang merasa hebat, merasa pandai, merasa puas ketika siswa-siswanya tak mengerti (Eh tapi ini bukan di sekolah sih, seringnya di perguruan tinggi). Ada beberapa “guru” yang dengan bangganya menganggap dirinya pandai ketika tak ada siswanya yang mengerti.

...Silahkan pembaca menambahinya! Saya yakin masih banyak lagi harapan-harapan siswa terhadap guru matematikanya.

Beberapa hal di atas adalah pendapat saya sebagai siswa yang begitu berharap pada bapak atau ibu guru matematika di manapun berada. Tentu bapak atau ibu bisa dengan bijak menanggapinya, bisa dengan cerdas mencernanya, bisa dengan lihai mempraktikannya. Hal-hal yang baru saja saya tulis mungkin tak sepenuhnya dapat bapak atau ibu lakukan secara sekaligus, namun saya berharap bisa dilakukan sedikit-demi sedikit.

Saya berharap hal-hal yang disebut diatas bisa sebagai sedikit masukan untuk perbaikan. Tentu yang baru saja saya tulis itu adalah keinginan saya sebagai siswa yang bisa saja banyak kelirunya. Namun yang terpenting adalah bapak atau ibu guru sekalian perlu memperhatikan aspek mendidiknya, aspek pembelajarannya, aspek psikologi perkembangan siswanya, dan aspek-aspek lainnya yang saya yakin bapak atau ibu guru sekalian jauh lebih mengetahuinya, jauh lebih berpengalaman melakukannya.

Dengan memperhatikan dan mempertimbangkan beberapa hal di atas, mudah-mudahan “citra buruk” yang selama ini melekat pada guru matematika dapat sedikit-demi sedikit terkikis, mudah-mudahan sih bisa lenyap semuanya. Akhirnya saya pun berharap dan berangan-angan, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi perbaikan pembelajaran matematika di ruang-ruang kelas di negeri tercinta kita, Indonesia.
Amin. [Al Jupri]

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 guru yang super kreatif ini, mengerjakan perkalian jadi kreatif;

You Might Also Like: