Anak Kampung Tapi Prestasi Tidak Kampungan

Beberapa hari terakhir banyak berita yang menceritakan tetang prestasi dua anak kampung yang prestasinya tidak kampungan [Mengutip apa yang disampaikan Bapak Anies Baswedan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada saat kunjungan ke SMA del Laguboti]. Prestasi dua anak kampung ini sangat mengagumkan mereka berhasil membuat para peneliti NASA harus memanggil mereka langsung ke Amerika untuk melanjutkan apa yang mereka teliti.

Apa yang mereka teliti adalah sesuatu yang tidak saya mengerti, sehingga saya tak banyak cerita kepada apa yang mereka teliti tetapi saya lebih suka kepada proses bagaimana mereka bisa sampai kesana.

Untuk informasi lebih lanjut saya ambil dari facebooknya Bapak Luhut Pandjaitan, karena Bapak Luhut Pandjaitan menceritakan sebahagian dari prosesnya, seperti apa cerita Bapak Luhut Pandjaitan mari kita simak.

Minggu, 24 Januari, dua orang guru dan dua siswa dari SMA Unggul Del berangkat dari Jakarta menuju NASA di San Jose, Amerika Serikat. Saya bangga melihat anak-anak didik saya dari kampung Sitoluama-Sumut ini mampu melewati proses seleksi yang dilakukan oleh NASA, hingga sekarang mereka berhasil masuk pada tahapan terakhir tes di NASA.

Tes terakhir ini akan menentukan apakah micro lab mereka yang meneliti tentang “micro-aerobic fermentation in space with micro gravity” layak diterbangkan ke stasiun ruang angkasa milik NASA tahun ini.

Sebelum mereka bertolak ke Amerika, saya berpesan kepada mereka bahwa selama di San Jose, mereka bukan hanya mewakili SMA Unggul Del tapi juga mewakili seluruh anak-anak SMA di Indonesia.

Kepada Gilbert Nadapdap, Gomos Parulian Manalu serta kepada Ibu guru Elin Bawekes dan Arini Desianti Parawi, saya ucapkan selamat bekerja dan selamat berjuang!.

Tunjukkan bahwa orang dari kampung juga bisa tampil di kelas dunia!

Del-Minggu 24 Januari, mereka akan berangkat dari Jakarta ke Amerika Serikat.
[Gomos Parulian Manalu, Arini Desianti Parawi, Elin Bawekes and Gilbert Nadapdap]


Persiapan seperti ini terus dilakukan sampai semalam sebelum mereka bertolak ke NASA - USA.


Persiapan seperti ini terus dilakukan sampai semalam sebelum mereka bertolak ke NASA - USA.

Mereka menciptakan sistem IT sehingga dapat mengendalikan proses fermentasi di angkasa luar dari kampung Laguboti.

Proses pembuatan microlab yang dikomputerisasi, siap akan diluncurkan ke stasiun angkasa luar internasional.

Ragi di dalam tabung akan diberimakan limbah kelapa sawit untuk membuat proses fermentasi.

Kamera mikro ini juga akan ikut terbang ke angkasa luar, sehingga obyek penelitian dapat dipantau dari bumi.

Tabung kecil ini akan diisi dengan ragi yang akan diterbangkan ke luar angkasa.

Sebelumnya, mereka diuji oleh para peneliti NASA melalui tele-conference.

Gilbert Nadapdap dan Gomos Parulian Manalu.

Sebagai seorang guru atau orang tua atau sekalipun masyarakat umum pasti kita berharap berikutnya bermunculan prestasi anak seperti apa yang sudah diperoleh Gibert dan Gomos diatas.

Terima kasih juga diucapkan kepada orang-orang yang mendukung sehingga anak-anak Indonesia dapat berprestasi dalam bidang pendidikan. Kita juga berharap para tokoh masyarakat lain ikut berperan serta dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia ini seperti apa yang sudah dilakukan oleh Bapak Luhut Pandjaitan dalam mengembangkan SMA del Laguboti, Bapak Chairul Tandjung dalam mengembangkan SMA CT Foundation, Bapak TB Silalahi dalam mengembangkan SMAN 2 Balige [SMA Soposurung] dan Bapak Akbar Tanjung dalam mengembangkan SMAN 1 Matauli.

Sebagai seorang guru dan masyarakat biasa mengucapkan selamat kepada Bapak Luhut Pandjaitan karena sekolah yang Bapak bangun sudah mulai mekar meskipun sekolah masih tergolong sangat muda. Semoga sekolah bisa mencapai apa yang di impikan "A Noble School For Noble Winners".


Kisah sukses dan bagaimana mulianya Cristiano Ronaldo setelah sukses, mari kita simak;

You Might Also Like: