Skip to main content

Warning..! Harap Dibaca Dengan Kepala Dingin "Guru, Biarkan Anak Kami Bahagia"

Cataan calon guru kali kita ambil dari facebook Ibu Retno Listyati, Tulisan ini kata beliau dari ibu Wulan Darmanto yang mempunyai anak 2 pelajar dan 1 Balita. Tulisan ini nantinya akan mengundang sedikit pro dan kontra, tetapi jika kita membaca dengan kepala dingin tulisan ini sangat baik kita jadikan sebagai catatan.

Oh iya, jangan anggap sepele dengan tulisan emak-emak kalau berkualitas, beberapa tahun yang lalu tulisan emak-emak yang juga pro dan kontra ternyata mendapat respon positif dan buku matematika kurikulum 2013 SMA dan SMP di revisi. Catatannya waktu itu adalah PR Matematika Anakku yang Duduk di Kelas 1 SMP, Kurikulum 2013 Gak salah niih?.

GURU, BIARKAN ANAK KAMI BAHAGIA

Siswa yang dirumahkan selama badai corona ini, jangan dikira mereka bahagia.

Mereka, anak-anak itu, sepintas memang terbebas dari proses tatap muka di sekolah. Libur di hari Minggu saja bagi mereka sudah surga. Apalagi libur berminggu dan berbulan lamanya?

Tapi faktanya tidak demikian. Mereka rindu bermain, berkumpul dengan teman-teman sekolahnya, beroleh petuah dari gurunya.

Mereka rindu berlari lagi di lapangan, rindu melayangkan pandang. Sebab kini yang bisa mereka tatap hanya sebatas tembok rumah dan mata orang tuanya.

Tidak. Ini tidak membahagiakan. Jika diminta memilih, mereka 1000 kali akan memilih dunia kembali ramah, dan bisa lagi bersekolah.

Namun di tengah ketidakberdayaan, di tengah rasa bosan dan stress yang barangkali menjalar dari kedua orang tua, anak-anak itu masih harus menerima rantaian tugas yang menekan pundak mereka.

Guru berusaha mengejar materi melalui jejalan tugas harian. Agar target materi terkejar, agar anak didik tidak hanya bermain di rumah, juga barangkali, agar guru tetap menunaikan kewajiban. Bagaimana pun juga, toh SPP tetap berjalan.

Orang tua pun tak kalah sibuknya. Mereka yang sebenarnya sudah didera bosan, was-was, ketakutan, ancaman PHK, kesusahan dan kesempitan, masih ditambahi bebannya dengan harus terus memantau chat group wali murid yang ratusan jumlahnya, hanya untuk mengetahui tugas apa yang harus dikerjakan ananda.

Sementara, tidak semua orang tua dikaruniai anak yang mudah diatur. Sebab jangankan membuat mereka mau duduk manis dan mengerjakan PR, membuat anak-anak aktif ini mau tetap di rumah saja, orang tua harus memutar otak bagaimana caranya.

Lebih dari itu semua, orang tua di hari ini sudah dipusingkan mencari rezeki di esok hari, agar anak-anak kami tetap dapat makanan bergizi, dan terjaga kesehatannya di tengah pandemi ini.

Semoga bapak dan ibu guru yang bertugas senantiasa dikaruniai kesehatan dan keselamatan. Jika saya boleh menyampaikan sedikit harapan, izinkanlah anak-anak ini berbahagia selama terkurung di rumah.

Yang jauh lebih dibutuhkan bangsa bukanlah anak-anak yang menuntaskan materi di semester ini. Tapi anak-anak yang sehat dan gembira hati.

Izinkan pula kami, para orang tua, memfokuskan diri untuk mengajari mereka cara bertahan hidup. Mentransfer nilai-nilai kehidupan yang barangkali tidak diajarkan di kursi sekolah. Berkumpul bersenda gurau, meningkatkan imunitas kami, tanpa harus dikejar target materi yang hanya menambah-nambahi susah pikiran kami.

Dan kami dengan senang hati mengizinkan pula bapak ibu guru, untuk tidak terbebani dengan kewajiban mendidik.

Ini adalah kejadian luar biasa yang sama-sama tidak kita harapkan. Maka mengapa tidak kita gunakan pula cara yang luar biasa?

Bolehlah diberi tugas, namun jangan terlalu berat. Atau justru bebaskan mereka dari tugas pelajaran. Tak mengapa pendidikan pada dua hingga tiga bulan ini tak terkejar. Sebab sejatinya corona sudah memberi mereka pelajaran hidup yang luar biasa, sebagai manusia ๐Ÿ™
*Wulan Darmanto, Ibu 2 pelajar dan 1 Balita

Untuk komentar catatan di atas saya pilih dua komentar saja, Anda setuju dengan yang mana atau kalau Anda mau menambahkan silahkan ditambahkan:
Siratal Mustaqim: Ini untuk para Orang tua. Kita memang dalam kondisi yang sulit kita semua memang sedang diberi pelajaran yang sangat berharga dari kasus covid19. Membebani murid dengan tugas yang berat memang ada dua karakter yang akan timbul.
  • Menjadikannya motifasi berprestasi
  • Menjadikannya beban.
Ini sangat bergantung dari cara pandang kita menyikapi persoalan. Membantu anak dalam mengerjakan tugas memang bukan tugas orang tua karena memang bukan profesinya. Tapi lagi-lagi orang tua dihadapkan pada pilihan.
  • Mengharapkan anak dianggap hebat dan mendapat nilai A+
  • Orang tua yang tak mau dipusingkan dengan kegiatan anaknya. Termasuk mengajarkannya dirumah.

Irsyad Das:Tulisan ini patut diperhatikan sebagai masukan bagi kita para guru. Ada banyak hal mempengaruhi suasana belajar di rumah, seperti sarana yang tersedia, jumlah anak, pekerjaan orangtua, hubungan orangtua-anak dan sebagainya.
Profesionalisme guru justru ditunjukkan dengan kemampuan mempertimbangkan berbagai hal itu dengan mengedepankan belajar bermakna dan menyenangkan.
Aneh kalau ada guru yang merasa diserang dengan curhat orang tua ini.

Saran, Kritik atau Masukan yang sifatnya membangun terkait Warning!, Harap Dibaca Dengan Kepala Dingin "Guru, Biarkan Anak Kami Bahagia" silahkan disampaikan๐Ÿ˜ŠCMIIW

Jangan Lupa Untuk Berbagi ๐Ÿ™Share is Caring ๐Ÿ‘€ dan JADIKAN HARI INI LUAR BIASA! - WITH GOD ALL THINGS ARE POSSIBLE๐Ÿ˜Š

Video pilihan khusus untuk Anda ๐Ÿ˜Š Ternyata ini Sebab Guru jadi Galak;
youtube image

Comment Policy: Tanggapan atau pertanyaan terkait "Warning..! Harap Dibaca Dengan Kepala Dingin "Guru, Biarkan Anak Kami Bahagia"" sangat diharapkan ๐Ÿ˜Š and please for your concern in supported of defantri.com
Buka Komentar
Tutup Komentar