Tatang Herman: Bagaimanakah Sebaiknya Guru (Matematika) Membelajarkan Siswa?

Mengingat kompetensi dan tuntutan lainnya dari kurikulum, materi dan kedalaman matematika, esensi dari materi tersebut, serta keterpakaian dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari maka kegiatan pembelajaran bisa dikembangkan guru sesuai potensi yang ada. Tidak terlepas dari pandangan apakah matematika itu dan bagaimanakah anak belajar matematika, berikut ini adalah beberapa kiat bagaimanakah sebaiknya pembelajaran matematika dilaksanakan.

Mulailah dari apa yang diketahui anak, bukan dari apa yang diketahui guru
Mungkin hal biasa kalau guru beranggapan bahwa di awal pertemuan siswabelum tahu sedikit pun mengenai materi pelajaran. Guru umumnya cenderung memulai pengajaran dari apa yang mereka ketahui, bukannya dari apa yang siswa ketahui. Padahal pengalaman dan pengamatan siswa sehari-hari dapat dijadikan pijakan awal untuk mereka belajar matematika. Jika siswa memahami berdasarkan apa yang telah mereka ketahui atau berdasarkan pengalamannya, tentu saja akan lebih bermakna bagi mereka.

Sajikan matematika dalam suasana menyenangkan
Ditinjau dari sudut pandang psikologi pendidikan, menyajikan matematika dalam suasana menegangkan atau menakutkan tidak menguntungkan dalam mengundang potensi intelektual siswa untuk belajar secara optimal. Suasana belajar yang baik bagi siswa memerlukan dukungan iklim yang kondusif untuk dapat berpikir kritis, kreatif, dan eksploratif sehingga siswa dapat bebas berpikir dan berpendapat sesuai dengan potensinya. Rasa percaya diri pada siswa perlu ditanamkan sejak awal sebab akan berkontribusi terhadap kebiasaan berpikir dalam kegiatan belajar. Dengan demikian, suasana pembelajaran matematika harus menyenangkan bagi anak.

Beri siswa kesempatan sebanyak-banyaknya untuk berbicara, bekerja, dan menulis mengenai matematika
Berbicara, menulis, dan bekerja dalam bahasa dan cara mereka sehari-hari mengenai matematika bisa membantu meningkatkan pemahaman konsep-konsep abstrak matematika. Jika suatu fakta diperoleh siswa melalui bahasa dan pengalaman mereka merupakan cara yang ampuh untuk memahami konsep atau proses.

Gunakan bahasa yang biasa (familier bagi anak) sebagai strategi awal
Siswa akan mengalami kesulitan jika dihadapkan langsung pada konsep-konsep matematika yang abstrak. Misalnya, daripada melatih siswa kelas 6 untuk menghitung 1541 : 92 dengan pembagian cara ke bawah, akan lebih bermakna bagi siswa jika disajikan dalam cerita seperti: “ Murid kelas 6 akan berdarmawisata ke Yogyakarta yang berjarak 1541km dari Bandung. Jika bis yang mereka tumpangi rata-rata menempuh 92km setiap jamnya, perkirakan berapa jamkah mereka di perjalanan?”

Padukan matematika dengan pelajaran lain
Pendekatan ini sangat tepat dilakukan di sekolah dasar mengingat guru pada tingkatan sekolah ini kebanyakan masih sebagai guru kelas. Memadukan matematika dalam satu konteks dengan IPA, IPS, atau bahasa tidak mustahil dapat meningkatkan perhatian dan motivasi siswa dalam belajar matematika. Selain itu mereka dapat menyadari bahwa matematika itu bukan untuk matematika saja.

Manfaatkan rekayasa teknologi (kalkulator dan komputer)
Masyarakat kita masih menyangsikan akan peranan alat-alat canggih, seperti kalkulator dan komputer, dalam pembelajaran matematika. Para orang tua dan guru masih banyak yang beranggapan bahwa kalkulator akan membuat siswabodoh, tidak mampu berhitung, dan akan menjadikan siswa bergantung pada alat. Anggapan itu sama sekali tidak benar sepanjang guru mampu memanfaatkan alat-alat itu dalam kegiatan pembelajaran matematika.

Gunakan media pembelajaran yang mudah diperoleh dan menarik
Peranan media atau alat peraga dalam pembelajaran matematika sangat urgen, sebab melalui alat peraga siswabisa belajar matematika dengan bantuan objek-objek nyata, merangsang melakukan percobaan dan pengamatan, dan mencoba menyingkap hal-hal baru bagi mereka. Banyak konsep abstrak matematika yang dapat dipresentasikan melalui benda-benda nyata sekeliling kita dalam upaya menanamkan konsep-konsep matematika yang kokoh.

Biasakan menyelesaikan suatu permasalahan dengan pendekatan problem solving
Salah satu tujuan pengajaran matematika di sekolah adalah membentuk siswa agar mampu berpikir logis, sistematis, kritis, dan kreatif. Pendekatan problem solving dalam belajar matematika akan melatih siswa untuk berpikir efektif dan strategis dalam menyelesaikan permasalahan. Oleh karena itu untuk membentuk nalar siswa dalam menganalisis dan menjawab permasalahan-permasalahan, kemampuan siswa dalam problem solving perlu dikembangkan terus melalui pendekatan-pendekatan pembelajaran. Apabila memungkinkan, dalam setiap kesempatan pengenalan konsep matematika sebaiknya dimulai melalui masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem).

Biasakan siswa untuk aktif bekerjasama dalam kelompok (cooperative learning)
Siswa membangun pengetahuan melalui konstruksi-konstruksi pemahamannya yang dapat diperoleh dari proses belajar atau pengalaman. Jika siswa mendapatkan sesuatu yang baru, maka persepsi dan konsep lama yang telah ada di kepalanya akan mengklarifikasi apakah hal baru itu dapat diterimanya sebagai konsep baru? Proses pengkonstruksian ini akan lebih cepat apabila dilakukan siswa melalui aktivitas dan sharing idea sesama siswa. Upaya meningkatkan kualitas pendidikan merupakan tugas sentral aparat pendidikan yang perlu dilakukan secara terus-menerus untuk membentuk kualitas sumber daya manusia yang handal dan mampu bersaing di era global.

Kualitas sumber daya manusia Indonesia yang diharapkan adalah generasi yang mendapatkan standar pendidikan yang tinggi sehingga mampu menjadi pemimpin, manajer, atau inovator yang efektif dan mampu menyesuaiakan diri dengan berbagai perubahan global. Guru sebagai ujung tombak pelaksana pendidikan bukanlah sebagai penerima dan pelaksana pembaruan, namun memiliki peranan sentral dalam perbaikan pendidikan khususnya dalam peningkatan kualitas pembelajaran.

Mengacu pada pokok pikiran tersebut, peningkatan kualitas pendidikan akan segera dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah. Menurut hasil pengamatan kegiatan pembelajaran matematika yang selama ini dilakukan kebanyakan masih berkonsentrasi pada aspek-aspek prosedural dan mekanistis (Herman, 2001); Armanto, 2002).

Oleh karena itu pemahaman dan pemaknaan matematika oleh siswa belum efektif sehingga belum menggapai kompetensi yang diharapkan. Di era ekonomi dan informasi global ini, siswa memerlukan pengetahuan dan kompetensi untuk memberdayakan dirinya dalam menemukan, menafsirkan, menilai, dan menggunakan pengetahuan sehingga dapat melahirkan gagasan dan kreativitas dalam bersikap, beraktivitas, dan mengambil keputusan yang diperlukan dalam kehidupan. [Dr. H. Tatang Herman, M.Ed.]

Masih menganggap matematika hanya hitung-hitungan semata, mari kita lihat kreativitas siswa ini, membuat lagu dengan matematika;

You Might Also Like: