Firman: Penyebab Utama Kemampuan Matematika Indonesia Rendah

Kemampuan matematika seseorang sangat berpengaruh dalam perilaku setiap manusia di dalam menjalani kehidupannya, mulai dari mengikuti aturan, menghargai orang lain, mengambil keputusan atau membuat pola dari sesuatu yang sebelumnya tidak berpola seperti yang dikatakan oleh Sujiwo Tejo bahwa "Math, finding Harmony in Chaos"

Banyak faktor yang menyebabkan kemampuan matematik masyarakat Indonesia secara umum masih rendah, Presiden Asosiasi Guru Matematika Indonesia (AGMI) Drs. Firman Syah Noor, M.Pd menyebutkan, berdasarkan hasil penelitian Trends in International Mathematics and Science Study (TIMMS) yang dilakukan oleh Frederick K. S. Leung pada 2003, ada tiga penyebab utama mengapa indeks literasi matematika siswa di Indonesia sangat rendah. "Guru besar University of Hong Kong itu menyebut lemahnya kurikulum di Indonesia, kurang terlatihnya guru-guru Indonesia, dan kurangnya dukungan dari lingkungan dan sekolah menjadi penyebab utama peringkat literasi Matematika siswa kita di urutan bawah,"

Sebagai informasi bahwa pada pemeringkatan Programme for International Student Assessment (PISA) terakhir, kemampuan literasi matematika siswa Indonesia sangat rendah. Indonesia menempati peringkat ke-61 dari 65 negara peserta pemeringkatan. PISA adalah studi literasi yang bertujuan untuk meneliti secara berkala tentang kemampuan siswa usia 15 tahun (kelas III SMP dan Kelas I SMA) dalam membaca (reading literacy), matematika (mathematics literacy), dan sains (scientific literacy).

Firman menjabarkan, kurikulum pendidikan matematika di Tanah Air belum menekankan pada pemecahan masalah, melainkan pada hal-hal prosedural. Siswa dilatih menghafal rumus, tetapi kurang menguasai penerapannya dalam memecahkan suatu masalah. Selain itu, objek materi pelajaran yang diberikan guru juga tidak lengkap bila dibandingkan dengan kurikulum internasional, misalnya Cambridge. "Tidak komprehensifnya kurikulum pendidikan matematika di Indonesia ini juga membuat nilai peringkat literasi matematika kita rendah," tuturnya.

Hal lainnya, ujar pengajar pada dosen pascsarjana Pendidikan Matematika di Universitas Pasundan (Unpas), adalah kurangnya penggunaan kalkulator oleh siswa Indonesia. Dia mengilustrasikan, di luar negeri, para siswa tidak perlu menghafal rumus karena sudah disediakan di depan kelas. Sebaliknya, di Indonesia, siswa justru ditekankan untuk dapat menghafal rumus dan sering kali dilarang menggunakan kalkulator dalam mengerjakan soal.

"Siswa di luar negeri juga terbiasa menggunakan kalkulator, karena itu hanyalah alat bantu dalam memecahkan masalah. Tentu saja, untuk soal-soal mudah, mereka menghitung manual. Tetapi jika soal-soal yang diberikan sulit, maka penggunaan kalkulator diperbolehkan karena guru ingin mendorong kemampuan siswa dalam memecahkan masalah,"

Sementara itu, dari segi guru, kurangnya kualifikasi pendidikan dianggap menyumbang jebloknya peringkat literasi Matematika Indonesia. Faktor lainnya adalah masih minimnya pelatihan dan bimbingan menulis karya ilmiah bagi para guru. Dan kalaupun ada pelatihan, kontrol tentang diseminasi atau aplikasi hasil pelatihan tersebut di kelas pun masih kurang," tutur pria yang juga mengajar di SMAN 3 Bandung itu.

Studi dilaksanakan oleh Organisation for Economic Co-operation & Development (OECD) dan Unesco Institute for Statistics itu mengukur kemampuan siswa pada akhir usia wajib belajar untuk mengetahui kesiapan siswa menghadapi tantangan masyarakat-pengetahuan (knowledge society) dewasa ini. Penilaian yang dilakukan dalam PISA berorientasi ke masa depan, yaitu menguji kemampuan anak muda untuk menggunakan keterampilan dan pengetahuan mereka dalam menghadapi tantangan kehidupan nyata, tidak semata-mata mengukur kemampuan yang dicantumkan dalam kurikulum sekolah. [kampus.okezone.com/]

Bagaimana perkalian dikerjakan dengan cara nakal, mari kita lihat perkalian yang kreatif dikerjakan dengan cara nakal;

You Might Also Like: