Ciri-ciri Kreativitas

Bagaimana konsep kreatifitas sedikit banyak sudah kita pahami pada artikel Konsep Kreatifitas Yang Perlu Kita Ketahui. Berikut coba kita berbagi artikel tentang ciri-ciri kreatifitas itu sendiri.

Ciri-ciri kreativitas dapat ditinjau dari dua aspek yaitu:
a. Aspek Kognitif.
Ciri-ciri kreativitas yang berhubungan dengan kemampuan berpikir kreatif//divergen (ciri-ciri aptitude) yaitu:
(1) keterampilan berpikir lancar (fluency);
(2) keterampilan berpikir luwes/fleksibel (flexibility);
(3) keterampilan berpikir orisinal (originality);
(4) keterampilan memperinci (elaboration); dan
(5) keterampilan menilai (evaluation).
Makin kreatif seseorang, ciri-ciri tersebut makin dimiliki. (Williams dalam Munandar, 1999: 88)

b. Aspek Afektif.
Ciri-ciri kreativitas yang lebih berkaitan dengan sikap dan perasaan seseorang (ciri-ciri non-aptitude) yaitu:
(a) rasa ingin tahu;
(b) bersifat imajinatif/fantasi;
(c) merasa tertantang oleh kemajemukan;
(d) sifat berani mengambil resiko;
(e) sifat menghargai;
(f) percaya diri;
(g) keterbukaan terhadap pengalaman baru; dan
(h) menonjol dalam salah satu bidang seni (Williams & Munandar, 1999).

Mengenai kriteria kreativitas Shapiro (dalam Djojonegoro,1994) menyatakan bahwa tanpa ada kejelasan mengenai kriteria kreativitas, suatu kajian tentang kreativitas patut diragukan keabsahan hasilnya. Dalam nada yang sama ,Taylor & Holland (1964) menyatakan, tidak ada yang paling penting dalam kreativitas, kecuali masalah kriteria.

Penentuan criteria kreativitas menyangkut tiga dimensi yaitu dimensi proses,person, dan produk kreatif (Amabile,1983) dengan menggunakan proses kreatif sebagai criteria kreativitas, maka segala produk yang dihasilkan dari proses itu dianggap sebagai produk kreatif, dan orangnya disebut sebagai orang kreatif.

Hal ini dilukiskan oleh Koestler (1964) yang mengartikan kreativitas sebagai suatu proses bisosiatif, yaitu “the deliberate connecting of two previously unrelated ‘matrices of thought’ to produce a new insight or invention”. Dalam pengertian Rothenberg (1976), proses kreatif identik dengan berpikir Janusian (Janusian thinking), yaitu suatu tipe berpikir divergen yang berusaha melihat berbagai dimensi yang beragam atau bahkan
bertentangan menjadi suatu pemikiran yang baru.

Apabila proses bisosiatif ini dihubungkan dengan tahap-tahap berpikir kreatif, maka selama proses tersebut merentang dari pengumpulan informasi
(preparasi), inkubasi, iluminasi dan evaluasi/verifikasi, dapat dikatakan bahwa hasil proses berpikir itu adalah produk kreatif. Dimensi pertama
dari kriteria kreatif ini menyangkut aspek yang invisible atau tidak dapat dilihat namun tidak dapat dilepaskan dari segala aspek kreativitas itu sendiri, karena kreativitas yang dihasilkan manusia berawal dari proses berpikir.

Tentu saja kemampuan berpikir kreatif ini dapat dibangun melalui rangsangan-rangsangan eksternal seperti halnya pengajaran yang kreatif.
Keberatan yang diajukan terhadap teori ini ialah, sesuatu yang dihasilkan dari proses berpikir kreatif tidak selalu dengan sendirinya dapat disebut sebagai produk kreatif. Kriteria ini jarang dipakai dalam penelitian, karena dianggap kurang menyentuh persoalan inti, yaitu karya kreatif secara nyata.

Dalam berbagai studi (misalnya Ghiselin, 1983) proses kreatif lebih ditempatkan sebagai salah satu aspek dari orang kreatif, dan bukan kriteria yang berdiri sendiri. Dimensi person sebagai criteria kreativitas seringkali kurang jelas rumusannya. Amabile (1983) mengatakan bahwa pengertian person sebagai kriteria kreativitas identik dengan apa yang oleh Guilford (1950) disebut kepribadian kreatif (Creative personality), yaitu “those patterns of traits that are characteristics of creative persons”.

Kepribadian kreatif menurut Guilford meliputi dimensi kognitif (yaitu bakat) dan dimensi non kognitif (yaitu mind, sikap, dan kualitas temperamental). Menurut teori ini, orang-orang kreatif memiliki ciri-ciri kepribadian yang secara signifikan berbeda dengan orang-orang yang kurang kreatif. Pembelajaran kreatif dapat membangun kreativitas anak didik.

Karakteristik-karateristik kepribadian ini menjadi kriteria untuk mengidentifikasi orang-orang kreatif. Orang-orang yang memiliki ciri-ciri seperti yang dimiliki oleh orang-orang kreatif dengan sendirinya adalah orang kreatif. Kriteria ini banyak digunakan penelitian kreatifitas.

Prosedur identifikasi orang-orang kreatif berdasarkan ciri-ciri kepribadian yang dimilikinya, biasanya dilakukan melalui teknik self-repor, nominasi dan penilaian oleh teman sebaya, rekan sejawat atau atasan dengan menggunakan petimbangan subyektif. Keberatan terhadap kriteria ini, jika digunakan sebagai satu-satunya kriteria untuk menentukan kreativitas seseorang, ialah karena ia belum menyentuh esensi dari kreativitas, yakni kemampuan untuk melahirkan sesuatu yang baru, yang nyata dalam hasil karyanya.

Karena itu, dimensi kepribadian dari kreativitas biasanya diteliti dalam kaitan dengan kriteria lain yang lebih eksplisit, yaitu produk kreatif. Person sebagai dimensi kedua dari kriteria kreativitas tentu tidak dapat dilepaskan begitu saja, orang kreatif tentu memiliki karakteristik personal yang berbeda dengan orang yang kurang kreatif. Keuletan, keteguhan, tidak takut gagal, antusiasme dalam mengeksplorasi gagasan untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif adalah sebagian dari kualitas karakteristik personal orang yang kreatif

Kriteria ketiga ialah produk kreatif, yang menunjuk pada hasil perbuatan, kinerja, atau karya seseorang dalam bentuk barang atau gagasan, kriteria ini dipandang sebagai yang paling eksplisit untuk menentukan kreativitas seseorang, sehingga disebut “kriteria puncak” (the ultimate criteria) bagi kreatifitas (Amabile, 1983; Shapiro, 1973) dalam operasi penilaiannya, proses identifikasi kreativitas dilakukan melalui analisis obyektif terhadap produk, pertimbangan terhadap produk, pertimbangan subyektif oleh peneliti atau panel ahli, dan melalui tes.

Misalnya, mengenai kriteria produk kreatif dibidang penelitian keilmuan (murni dan terapan), McPherson (1963; 24) menyebutkan sebelas indicator,
yaitu: patents, patent disclosures, publication, unpublished research roports, unprinted oral presentations, improved processes, new instruments, new analytical methods, adeas, new progucts, new compounds. Indikator-indikator ini lebih mencerminkan produk kreatif dibidang sains dan teknologi, dan tidak semuanya berlaku pada produk kreatifitas dibidang ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan.

Pada semua indikator diatas tampak bahwa kualitas produk kreatif ditentukan oleh sejauh manakah produk tersebut memiliki kebaruan (newness, novelty) atau orisinal, bermanfaat, dan dapat memecahkan masalah.

Proses penelitian terhadap produk kreatif dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu analisis obyektif dan pertimbangan subyektif. Produk kreatif yang ditampilkan oleh individu yang dibuktikan dalam karya-karya kreatifnya menjadi ukuran; apakah ia/mereka layak disebut sebagai orang kreatif istimewa ataukah tidak.

Kriteria yang didasarkan pada produk kretif cukup dapat dipercaya daripada kriteria yang didasarkan atas skor tes kreativitas semata-mata (Brandit, 1986), karena produk kreatif secara langsung menggambarkan penampilan aktual seseorang dalam kegiatan kreatif. Produk kreatif dapat dikatakan sebagai wujud dari proses berpikir kreatif dan kepribadian kreatif dari seseorang.

Lebih lanjut Supriadi (1994) mengemukakan secara lebih rinci mengenai dimensi proses, person sebagai hal penting dan tidak dapat dilepaskan dari produk kreativitas. [Ciri-ciri kreativitas | Buku Permainan Kreatif untuk Guru - PT Globalindo Universal Multikreatif]

Masih menganggap matematika hanya hitung-hitungan semata, mari kita lihat kreativitas siswa ini, membuat lagu dengan matematika;

You Might Also Like: