Induksi Versus Deduksi

Pada artikel saya terdahulu Kemampuan Untuk Menjadi Pendengar Yang Baik, adalah salah satu pendekatan yang bisa kita lakukan kepada orang lain.

Perhatikan dua kasus berikut:

Kasus pertama.
Ucok: Mama, saya ingin punya sepeda !

(Sebelum ucok sempat menerangkan apa-apa, mamanya terkejut)
Mama: “Untuk apa beli sepeda? Kamu belum memerlukannya. Kan, masih banyak yang harus dibeli, lebih baik beli buku saja.”

Kasus kedua.
Ucok: “Mama, Ucok setiap pulang sekolah selalu jalan kaki, Ucok lelah sekali sehingga untuk belajar di rumah sepulang sekolah jadi susah Ma.., boleh tidak Ucok dibelikan sepeda supaya ucok bisa lebih cepat pulang dan tidak kelelahan? Boleh ya Ma?”

Mama: 😊

Dari kedua kasus diatas, ada perbedaan cara meminta yang dilakukan Ucok.

Pada kasus pertama, itulah yang disebut dengan pendekatan deduksi, kita akan diberitahu lawan bicara kita tentang apa yang kita inginkan dari mereka secara langsung. Mengarahkan, meminta atau memaksa secara langsung sebelum memberikan penjelasan kepada lawan bicara kita. Pendekatan ini bisa saya sederhanakan sebagai: meminta/ memerintah baru memberi alasan mengapa mereka harus melakukan hal itu.

Pada kasus kedua, jawaban Mama sengaja dikosongkan dan diserahkan kepada pembaca seandainya Anda berada di posisi Mama Ucok. Pada kasus kedua ini disebut pendekatan dengan Induksi, kita memberikan alasan terlebih dahulu sebelum meminta sesuatu dari lawan bicara kita. Lawan bicara mendengarkan penjelasan terlebih dahulu yang dibuat sedemikian rupa agar ia mempercayai poin akhir pembicaraan. Dengan demikian, lawan bicara kita tidak mampu langsung menolak.

Namun, seperti seni-seni lainnya, cara ini begitu fleksibelnya sehingga Anda harus mampu melihat lawan bicara Anda sebelum dapat memilih metode pendekatan mana yang tepat untuk digunakan.

Video pilihan khusus untuk Anda 😊 Matematika Dapat Mempengaruhi Karakter Kita;

You Might Also Like: