Strategi Pembelajaran Matematika SMA

Pembelajaran Matematika di Sekolah telah dibahas sebelumnya dan Pembelajaran Tematik melengkapinya. Dengan berpijak pada masih rendahnya hasil belajar siswa untuk mata pelajaran matematika, yang ditengarai hasil UN dan prestasi mereka ditingkat internasional IMO (International Mathematics Olympiad), secara jujur harus kita terima suatu kenyataan. Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas belajar matematika siswa haruslah dengan meningkatkan kualitas pembelajarannya.

Trend pendidikan matematika yang berkembang di dunia dewasa ini (Fadjar Shadiq, 2001) adalah :
  1. Beralihnya pendidikan matematika dari bentuk formal ke penerapan, proses (activities), dan pemecahan masalah nyata. Dengan kata lain dari deduktif ke induktif.
  2. Beralihnya assessment (penilaian) ke bentuk penilian autentik seperti portofolio, proyek, wawancara (interview), laporan siswa, jurnal penilaian mandiri siswa, ataupun penampilan (performance)
  3. Pemaduan matematika dengan disiplin lain (dari single disciplines ke interdisciplinary)
  4. Peralihan dari belajar perorangan (yang bersifat kompetitif) ke belajar bersama (cooperative learning)
  5. Peralihan dari belajar menghafal (rote learning), ke belajar pemahaman (learning for understanding) dan belajar pemecahan masalah (problem solving).
  6. Peralihan dari dasar positivis (behaviorist) ke konstruktivisme, atau dari subject centered ke clearer centered (terbentuk/ terkonstruksinya pengetahuan).
  7. Peralihan dari teori pemindahan pengetahuan (knowledge transmitted) ke bentuk interaktif, investigatif, eksploratif, kegiatan terbuka, keterampilan proses, modeling dan pemecahan masalah.

Perlu pula kita menengok ke belakang, yaitu pada rekomendasi dari The Cockroft Report yang banyak dijadikan acuan dari berbagai negara untuk meningkatkan kualitas pendidikan matematikanya. The Cockroft Report merupakan laporan dari Commette of Inquiry into the Training of Mathematics in Schools, suatu komisi yang dibentuk oleh Departement of Education and Science, Great Britain, diketuai oleh Dr.W.H.Cockroft, dengan laporannya yang sangat terkenal itu, dan diberinya judul "Mathematics Counts".

Oleh karena itu dalam mendesain pembelajaran matematika, seharusnyalah kita mengacu pada The Cocroft Report ini. Menggaris bawahi lingkup tugas para guru berkenaan dengan perannya dalam pembelajaran matematika, pada bab ke 17 paragraf 243 dari The Cockroft Report ini direkomendasikannya bahwa: "Pengajaran matematika pada semua jenjang pendidikan hendaknya meliputi aktivitas sebagai berikut :
  1. Eksposisi dari guru
  2. Diskusi antara guru dengan siswa dan diskusi antar siswa.
  3. Adanya kerja praktis (practical work).
  4. Pemantapan dan latihan (consolidation and practice of fundamental skill and routine).
  5. Problem solving yang berisi penerapan matematika pada kehidupan sehari‐hari.
  6. Kegiatan investigasi (investigational work).

Paradigma baru dalam pendidikan matematika di Indonesia, menurut Zamroni (dalam Sutarto Hadi, 2000), seharusnya memiliki ciri‐ciri sebagai berikut :
  1. Pendidikan lebih menekankan pada proses pembelajaran (learning) dari pada pengajaran (teaching).
  2. Pendidikan diorganisir dalam suatu struktur yang fleksibel.
  3. Pendidikan memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki karakteristik khusus dan mandiri, dan
  4. Pendidikan merupakan proses yang berkesinambungan dan senantiasa berinteraksi dengan lingkungan.

Menjawab tantangan di atas dan mencermati trend pengajaran matematika di dunia, maka Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Matematika mengembangkan strategi pembelajaran matematika terpadu yang akrab kita kenal dengan Strategi Pembelaran Matematika yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM).

Untuk mengawali pembahasan mengenai strategi pembelajaran, kita kenal beberapa istilah yang kadang‐kadang mempunyai pengertian yang hampir sama, dan dalam penggunaannya kadang‐kadang kita rancu, yaitu pengertian tentang strategi, metode, pendekatan, model serta teknik dalam pembelajaran. Ruseffendi (1980) mencoba untuk memberikan klarifikasi tentang keempat masalah di atas, menurutnya yang dimaksud dengan:

1. Strategi mengajar adalah seperangkat kebijaksanaan yang terpilih, yang telah dikaitkan dengan faktor yang menentukan warna atau strategi tersebut, yaitu :
a. Pemilihan materi pelajaran (guru atau murid
b. Penyaji materi pelajaran (perorangan kelompok, atau belajar mandiri)
c. Cara materi pelajaran disajikan (induktif atau deduktif, analitis atau sintetis, formal atau non formal)
d. Sasaran penerima materi pelajaran (kelompok, perorangan, heterogen atau homogen).

2. Pendekatan adalah jalan atau arah yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran dilihat bagaimana materi itu disajikan. Misalnya memahami suatu prinsip dengan pendekatan induktif atau deduktif, atau mempelajarai operasi perkalian dengan pendekatan ganda Cartesius, demikian juga bagaimana siswa memperoleh, mengorganisasi dan mengkomunikasikan hasil belajarnya lewat pendekatan ketrampilan proses (process skill).

3. Metode mengajar adalah cara mengajar secara umum yang dapat ditetapkan pada semua mata pelajaran, misalnya mengajar dengan ceramah, ekspositori, tanya jawab, penemuan terbimbing dan sebagainya.

4. Teknik mengajar adalah penerapan secara khusus suatu metode pembelajaran yang telah disesuaikan dengan kemampuan dan kebiasaan guru, ketersediaan media pembelajaran serta kesiapan siswa, sebagai misalnya teknik mengajarkan perkalian dengan penjumlahan berulang.

5. Model pembelajaran mempunyai pengertian yang amat dekat dengan strategi pembelajaran. Menurut Ismail (dalam Rachmadi, 2006:5) yang membedakan model pembelajaran dengan strategi maupun metode adalah dimilikinya empat ciri khusus, yaitu:
a. Rasional teoritik yang logis yang disusun penciptanya
b. Tujuan pembelajaran yang hendak dicapai
c. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut berhasil
d. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran tercapai.

Belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dan murid. Sedang mengenai strategi pembelajaran ini, Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (1996:5) memberi rambu‐rambu konsep strategi pembelajaran, bahwa secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis‐garis besar untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Dengan sedikit mengerucut pembahasan tentang strategi pembelajaran maka dapat diartikan sebagai pola‐pola umum kegiatan guru‐anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.

Dikenal empat strategi dasar dalam belajar mengajar yang meliputi hal‐hal sebagai berikut :

1. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik yang diharapkan
2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar yang serasi
3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode, dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif
4. Menetapkan norma‐norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria standar keberhasilan.

Mengacu pada empat strategi dasar di atas dan mencermati trend pembelajaran matematika dewasa ini, maka strategi pembelajaran matematika sebaiknya menerapkan adalah Pembelaran Matematika yang Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAKEM). [Strategi Pembelajaran Matematika SMA oleh:Drs. Setiawan, M.Pd]

Contoh Proses Belajar Mengajar yang dianjurkan pada Kurikulum 2013, mungkin video berikut dapat membantu kita dalam penerapan kurikulum 2013;

You Might Also Like: