Belajar Memahami Watak Siswa Dengan Bantuan Buku Personality Plus

Dua hari terakhir saya sering tersenyum sendiri karena mengamati beberapa sifat anak-anak yang kurang lebih sudah dua hari kami bersama. Kegiatan Olimpiade Mathematic Science Competition [MSC] 2015 menyatukan kami kurang lebih selama 2 hari. Dalam 2 hari ini pula dalam keadaan serius, santai, lelah, emosi, sedih dan tertawa kami lalui bersama. Semuanya selesai dengan baik dan kami harap semua pengalaman yang kami peroleh dapat kami ambil jadi pembelajaran untuk hari ini dan besok yang lebih baik.

Cerita tentang "tersenyum sendiri" itu adalah bagian dari tugas guru yaitu menjadi seorang pengamat dan psikologi. Saya pernah membaca buku Personality Plus karangan Florence Littauer yang menceritakan bahwa ada empat pola watak dasar manusia. Sebagai seorang guru, sudah mengertikah kita bagaimana cara membangkitkan motivasi para anak didik kita?. Banyak guru [saya juga] sering bingung dan tidak habis pikir dan kadang hampir stress karena watak keras anak didik kita.

Bahkan karena tidak mengertinya guru akan watak anak didik para guru sering menjadi apatis atau tidak perduli terhadap perkembangan anak didiknya terkadang juga guru beranggapan bahwa anak didiknya sudah kelewatan, tidak bisa diajari lagi dan harus dikeluarkan dari sekolah. Keadaan seperti ini sudah sering kita jumpai di sekolah-sekolah.

Apabila kita lakukan penelitian mendasar seperti apa yang disampaikan Florence Littauer pada bukunya mungkin bisa kita jadikan suatu pembelajaran atau catatan tambahan dalam menengenali anak didik kita. Bagaimana Florence Littauer bercerita dibukunya, berikut kita ambil garis besar yang mungkin dapat kita jadikan catatan seperti disebutkan diawal. Ketika mengamati watak siswa kita akan tersenyum sendiri karena kita sudah menemukan cara bagaimana untuk menyenangkan anak didik kita tersebut atau kita tahu siswa kita masuk kategori watak yang mana.

Florence Litteur, pada buku Personality Plus menguraikan, ada empat pola watak dasar manusia;
Sanguinis, “yang populer”
Mereka ini cenderung ingin populer, ingin disenangi oleh orang lain. Hidupnya penuh dengan bunga warna-warni. Mereka senang sekali bicara tanpa bisa dihentikan. Gejolak emosinya bergelombang dan transparan. Pada suatu saat ia berteriak kegirangan, dan beberapa saat kemudian ia bisa jadi menangis tersedu-sedu.

Namun, orang-orang sanguinis ini sedikit agak pelupa, sulit berkonsentrasi, cenderung berpikir ‘pendek’, dan hidupnya serba tak beraturan. Jika suatu kali Anda lihat meja kerja anak didik Anda cenderung berantakan, agaknya bisa jadi ia sanguinis. Kemungkinan besar ia pun kurang mampu berdisiplin dengan waktu, sering lupa pada janji, apalagi bikin planning/rencana. Namun, kalau disuruh melakukan sesuatu, ia akan dengan cepat mengiyakannya dan terlihat sepertinya betul-betul hal itu akan ia lakukan. Dengan semangat sekali ia ingin buktikan bahwa ia bisa dan akan segera melakukannya. Tapi percayalah, beberapa hari kemudian ia tak lakukan apa pun juga.
Melankolis, “yang sempurna”
Agak berseberangan dengan si sanguinis. Cenderung serba teratur, rapi, terjadwal, dan tersusun sesuai pola. Umumnya mereka ini suka dengan fakta-fakta, data-data, angka-angka, dan sering sekali memikirkan segalanya secara mendalam. Dalam sebuah pertemuan, orang sanguinis selalu saja mendominasi pembicaraan. Namun, orang melankolis cenderung menganalisis, memikirkan, dan mempertimbangkan. Lalu, kalau bicara pastilah apa yang ia katakan betul-betul merupakan hasil yang ia pikirkan secara mendalam sekali.

Orang melankolis selalu ingin serba sempurna. Segala sesuatu ingin teratur. Karena itu jangan heran jika ada peserta didik kita yang buku catatan harus tertata denganrapi baru dia bisa belajar. Begitu juga dengan meja belajar orang ‘melankolis’ akan betul-betul ia tata apik sekali, sehingga warnanya, jenisnya, dan klasifikasi pemakaiannya sudah ia perhitungkan dengan rapi. Kalau perlu ia tuliskan satu per satu tata letak setiap jenis buku-buku di lemarinya. Ia akan dongkol sekali kalau susunan itu tiba-tiba jadi lain.

Koleris, “yang kuat”
Mereka ini suka sekali mengatur orang, suka tunjuk-tunjuk atau perintah-perintah orang. Ia tak ingin ada penonton dalam aktivitasnya. Bahkan, tamu pun bisa saja ia ‘suruh’ melalukan sesuatu untuknya. Akibat sifatnya yang ‘bossy’ itu membuat orang-orang koleris tidak punya banyak teman. Orang-orang berusaha menghindar, menjauh agar tak jadi ‘korban’ karakternya yang suka ‘ngatur’ dan tak mau kalah itu.

Orang koleris senang dengan tantangan, suka petualangan. Mereka punya rasa, “Hanya saya yang bisa menyelesaikan segalanya; tanpa saya berantakan semua.” Karena itu mereka sangat goal oriented, tegas, kuat, cepat, dan tangkas mengerjakan sesuatu. Baginya tak ada istilah tidak mungkin. Seorang wanita koleris, mau dan berani naik tebing, memanjat pohon, bertarung ataupun memimpin peperangan. Kalau ia sudah kobarkan semangat “Ya pasti jadi...!” maka hampir dapat dipastikan apa yang akan ia lakukan akan tercapai seperti yang ia katakan. Sebab ia tak mudah menyerah, tak mudah pula mengalah.

Flegmatis atau “cinta damai”
Kelompok ini tidak suka terjadi konflik, karena itu disuruh apa saja ia mau lakukan, sekalipun ia sendiri tidak suka. Baginya kedamaian adalah segala-galanya. Jika timbul masalah atau pertengkaran, ia akan berusaha mencari solusi yang damai tanpa timbul pertengkaran. Ia mau merugi sedikit atau rela sakit, asalkan masalahnya tidak terus berkepanjangan.

Kaum flegmatis kurang bersemangat, kurang teratur, dan serba dingin. Cenderung diam, kalem, dan kalau memecahkan masalah umumnya sangat menyenangkan. Dengan sabar ia mau jadi pendengar yang baik, tapi kalau disuruh untuk mengambil keputusan ia akan terus menunda-nunda. Kalau anda lihat tiba-tiba ada sekelompok orang berkerumun mengelilingi satu orang yang asyik bicara terus, maka pastilah para pendengar yang berkerumun itu orang-orang flegmatis. Sedang yang bicara tentu saja sang sanguinis.

Kadang sedikit serba salah berurusan dengan para flegmatis ini. Ibarat keledai, “kalau didorong ngambek, tapi kalau dibiarin nggak jalan”. Jadi kalau Anda punya siswa flegmatis, Anda harus rajin memotivasi sampai ia termotivasi sendiri.

Sekarang Anda masuk golongan mana? Coba ingat-ingat anak didik kita yang suka mengatur waktu diskusi, yang diam saja atau yang suka tertawa. Apakah Anda sekarang mulai mengerti mengapa anak didik kita bertingkah laku “seperti itu” selama ini. Dan, Anda pun akan tertawa sendiri mengingat-ingat berbagai perilaku dan kejadian selama ini.

Tapi apakah persis begitu? Tentu saja tidak. Florence Litteur, berdasarkan penelitiannya bertahun-tahun telah melihat bahwa ternyata keempat watak itu pada dasarnya juga dimiliki setiap orang. Yang beda hanyalah ‘kadarnya’. Oleh sebab itu muncullah beberapa kombinasi watak manusia.

Koleris - Sanguinis
Artinya kedua watak itu dominan sekali dalam mempengaruhi cara kerja dan pola hubungannya dengan orang lain. Di sekitar kita banyak sekali orang-orang tipe koleris-sanguinis ini. Ia suka mengatur-atur orang, tapi juga senang bicara [dan mudah juga jadi pelupa].

Koleris - Melankolis
Mungkin Anda akan kurang suka bergaul dengan dia. Bicaranya dingin, kalem, baku, suka mengatur, tak mau kalah dan terasa kadang menyakitkan [walaupun sebetulnya ia tidak bermaksud begitu]. Setiap jawaban Anda selalu ia kejar sampai mendalam. Sehingga kadang serasa diintrogasi, sebab memang ia ingin sempurna, tahu secara lengkap dan agak dingin. Menghadapi orang koleris-melankolis, Anda harus pahami saja sifatnya yang memang ‘begitu’ dan tingkatkan kesabaran Anda. Yang penting sekarang Anda tahu, bahwa ia sebetulnya juga baik, namun tampak di permukaan kadang kurang simpatik, itu saja.

Flegmatis - Melankolis
Pembawaannya diam, tenang, tapi ingat… semua yang Anda katakan akan ia pikirkan, ia analisis. Lalu, saat mengambil keputusan pastilah keputusannya berdasarkan perenungan yang mendalam dan ia pikirkan matang-matang.

Banyak lagi tentunya kombinasi yang ada pada anak didik kita. Akan tetapi yang penting adalah bagaimana memanfaatkannya dalam berbagai aktivitas pembelajaran. Jika para guru mengerti sifat dan watak ini, mereka akan cenderung berusaha untuk menyikapinya perbedaan watak itu secara bijaksana.

Begitulah, manusia memang amat beragam. Muncul sedikit tanda tanya, di antara semua watak itu, mana yang paling baik? Jawabannya, menurut Florence, tak ada yang paling baik. Semuanya baik. Tanpa orang sanguinis, dunia ini akan terasa sepi. Tanpa orang melankolis, mungkin tak ada kemajuan di bidang riset, keilmuan, dan budaya. Tanpa kaum koleris, dunia ini akan berantakan tanpa arah dan tujuan. Tanpa sang flegmatis, tiada orang bijak yang mampu mendamaikan dunia.


Yang penting bukan mana yang terbaik. Sebab kita semua bisa mengasah keterampilan kita berhubungan dengan orang lain [interpersonal skill]. Seorang yang ahli dalam berurusan dengan orang lain, ia akan mudah beradaptasi dengan berbagai watak itu. Ia tahu bagaimana menghadapi sifat pelupa dan watak acaknya kaum sanguinis, misalnya dengan memintanya untuk selalu buat rencana dan memintanya melakukan segera. Ia jago memanas-manasi [menantang] potensi orang koleris mencapai goal-nya, atau `membakar’ sang flegmatis agar segera bertindak saat itu juga. “Inilah seninya dalam berinteraksi dengan orang lain,” kata Florence. Tentu saja awalnya adalah, “Anda dulu yang harus berubah.”
Belajarlah jadi pengamat tingkah laku manusia…[lalu tertawalah]!

Semoga cerita dari buku Personality Plus itu menambah pengetahuan kita, dan apa yang disampaikan disini hanya sebagian kecil dari isi bukut itu. Sehingga untuk memahami lebih jauh tentang empat pola watak diatas sebaiknya Anda segera membeli bukunya dan mempelajarinya.

Punya anak atau saudara yang duduk di bangku SD atau SMP, coba berikan permainan tangram siapa tahu dia suka. Hasil kreativitas anak dari permainan tangram dapat diliha pada video berikut;

You Might Also Like: