Kesalahan Konsep Perkalian itu, Berakhir Pada Kematian

Ketika membaca surat seorang kakak kepada guru matematika adiknya, saya jadi terharu sebagai seorang guru matematika. Apa yang dilakukan seorang kakak terhadap Pekerjaan Rumah [PR] adiknya atau apa yang dilakukan orang tua terhadap PR anaknya adalah membantu semampu mungkin. Jika usaha membantu itu sudah dilakukan maka itulah yang dikatakan sebuah keluarga, dimana kakak membantu adik dalam hal belajar atau sebaliknya boleh juga, ayah/ibu membantu atau menemani anak-anak belajar.

Guru memberikan PR kepada anak-anak tidak semata-mata hanya untuk mengetahui pengetahuan anak, tetapi bisa juga untuk melihat bagaimana si anak berkomunikasi di keluarganya, bagaimana si anak mencari penyelesaian dalam mengahadapi kendala yang dihadapi, bagaimana si anak di rumah apakah orang tua nya memperhatikan perkembangan belajar anaknya di sekolah dan banyak lagi.

Masalah konsep perkalian yang sedang ramai di sosial media tidak perlu kita cari siapa yang salah dan siapa yang benar, karena apa yang dilakukan sang kakak, si anak dan guru pada dasarnya sudah baik. Untuk kasus perkalian ini saya jadi teringat kasus kemarin tentang "PR Matematika anakku yang duduk di kelas 1 SMP" dimana orang tua berusaha membantu menyelesaikan PR anaknya. Tetapi untuk kasus yang kemarin tidak menyalahkan perorangan tetapi lebih menyalahkan sistem sedangkan PR perkalian anak kelas 2 SD ini menyalahkan perorangan sehingga sangat cepat di respon oleh masyarakat.

Pemerhati pendidikan yang coba ikut merespon dan memberikan pendapat tentang PR perkalian anak kelas 2 SD ini yang dikutip dari merdeka.com diantaranya adalah;

Dosen matematika Universitas Pendidikan Indonesia [UPI] Rizky Rosjanuardi menjelaskan rinci soal polemik tersebut. Menurutnya, tidak bisa disalahkan satu pihak dan membenarkan yang lain.

Humas Kemendikbud, Ibnu Hamad, menjelaskan dalam penerapan Kurikulum 2013 ada dua aspek penting yang menjadi penilaian guru pada murid. Yakni aspek kemampuan dan penalaran.

Guru Besar Matematika Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Darhim ikut berkomentar soal PR matematika anak SD yang bikin heboh media sosial. Menurut Darhim, buku matematika SD yang sekarang beredar bersifat uji coba, belum selesai direvisi.

Pemerhati ilmu matematika, Adi Rio Arianto menilai peristiwa Habibi bisa terjadi karena guru itu dinilai kurang tanggap dengan perkembangan Matematika siswanya.

Dosen Matematika Institut Teknologi Bandung [ITB] Ahmad Muchlis berkomentar soal polemik tersebut. Kepada mahasiswanya sering mengatakan bahwa dalam matematika itu bukan benar salahnya yang paling penting, melainkan pertanggungjawaban.

Pakar pendidikan Arief Rachman mengatakan, dalam pembelajaran matematika proses mendapatkan hasil jawaban sangat penting. Meski melalui proses yang berbeda dan mendapatkan hasil sama menurutnya tidak ada yang bisa disalahkan.

Yohannes Surya melalui fan page-nya kembali mengingatkan lewat Matematika GASING-nya: 6 x 4 atau 4 x 6 ?

Berapa jeruk dalam 2 kotak berisi masing-masing 4 jeruk?
Jawabnya adalah 4 jeruk + 4 jeruk

Kalimat “Berapa jeruk dalam 2 kotak berisi masing-masing 4 jeruk ?”
boleh ditulis 2 kotak x 4 jeruk/kotak =
disingkat
2 x 4 jeruk =
Jadi
2 x 4 jeruk = 4 jeruk + 4 jeruk
Selanjutnya kita tulis
2 x 4 = 4 + 4 [kesepakatan]

Dengan kesepakatan itu kita boleh menulis :
6 x 4 = 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4
4 x 6 = 6 + 6 + 6 + 6

Kesimpulan:
Ketika menghitung 6 x 4 kita membayangkan menghitung jumlah jeruk dalam 6 kotak berisi masing-masing 4 jeruk. Jadi 6 x 4 = 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4
Ketika menghitung 4 x 6 kita membayangkan menghitung jumlah jeruk dalam 4 kotak berisi masing-masing 6 jeruk. Jadi 4 x 6 = 6 + 6 + 6 + 6

Dengan logika kotak dan jeruk ini, lebih mudah bagi kita untuk mengerti tidak hanya soal-soal cerita perkalian tetapi juga berbagai operasi matematika seperti 28:7 = atau 4a + 4b = 4 [a + b] dsb.

Matematika itu GASING [Gampang AsyIk menyenaNGkan].

Pendapat-pendapat diatas semuanya adalah baik, pada akhir tulisan ini saya hanya menyampaikan pendapat saja bagaimana anak-anak bahkan para mahasiswa atau orang tua dapat paham konsep perkalian tidak akan salah lagi atau lupa.


Kita semua pasti pernah berobat ke dokter dan ketika dokter memberikan obat melalui resepnya, dokter akan menuliskan 3x1 pada resep atau obat.

Tanpa kita bertanya lebih jauh kepada dokter rata-rata dari kita bisa mengerjakan perintah tersebut yaitu 3x1 = 1+1+1 dan saya yakin Anda tidak akan berani melakukan 1x3 meskipun hasilnya sama karena Anda masih sayang sama nyawa Anda. Kesalahan konsep perkalian itu, berakhir pada kematian.
[www.merdeka.com | https://www.facebook.com/YS.OFFICIAL]

Sebagai tambahan, mari kita simak video guru yang super kreatif ini, mengerjakan perkalian jadi kreatif;

You Might Also Like: