Jangan Masuk S-1 ITB, Jika

Jangan masuk ITB, tulisan yang mungkin secara sengaja di share oleh teman, saudara sekaligus sahabat yang juga merupakan alumni ITB pada status sosial medianya. Sedikit tertarik melihat judulnya, lalu saya langsung masuk ke link yang dituju dan ternyata tulisan tersebut juga tulisan seorang alumni ITB jurusan Farmasi [*bacanya di http://edukasi.kompasiana.com/2013/03/25/jangan-masuk-s-1-itb-545797.html].

Pengalaman-pengalaman dari alumni universitas [bukan hanya ITB] sangat penting di bagikan karena sangat dibutuhkan oleh siswa-siswa kelas XII SMA, paling tidak anak-anak kelas XII SMA dapat gambaran sederhana bagaimana sebenarnya kuliah di universitas. Untuk tulisan kali ini bagaimana gambaran sederhana bagaimana kuliah di kampus favorit yaitu ITB, mari kita simak ceritanya;

Sebentar lagi ada ujian nasional dan seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri, anak-anak SMA kelas 12 mungkin banyak yang ingin masuk kampus-kampus favorit seperti UGM, ITB atau UI, sama seperti 6 tahun lalu saat saya kelas 12 SMA. Saat itu dalam memilih kampus, yang terpikir di otak saya cuma 2, saya suka pelajaran apa dan dimana yang passing gradenya paling tinggi, kenapa paling tinggi? karena asumsi saya, jika saya masuk di grade paling tinggi di Indonesia, maka akan mudah mencari kerja.

Karena saya suka pelajaran kimia, kebetulan juga alumni olimpiade kimia maka saya memilih tiga program studi yang sangat berhubungan dengan kimia, yaitu teknik kimia, farmasi dan kimia [murni]. Saya coba-coba cari informasi, di bimbingan belajar, di situs online dan sebagainya, ternyata ketiga program studi itu passing grade paling tingginya semua ada di ITB. Singkat cerita saya masuk farmasi ITB, lulus S-1 4 tahun 3 bulan lalu pendidikan profesi setahun. Ini sekilas gambaran yang mungkin juga dihadapi oleh adik-adik yang saat ini akan masuk perguruan tinggi.

Saya akan lebih banyak cerita sesuai judul, ini cerita ketika saya dan beberapa teman alumni kumpul, ada yang sudah kerja di oil & gas company, ada yang bisnis, ada yang S-2, ada yang kerja di bidang programming dan sebagainya. Teman saya yang S-2 cerita, bahwa perbandingan saat dia kuliah S-2 dengan S-1 di ITB beda jauh, sama-sama di ITB, namun dengan effort belajar yang sama sekarang IPK nya selalu tinggi, mendekati 4, berbeda saat dia dulu S-1 di matematika, mendapat IP 3 itu butuh perjuangan berat, memang S-2 & S-3 di ITB kualitasnya masih jauh dibanding S1. ITB sendiri saja tidak mau menerima dosen kalau S-3 nya masih di ITB.

Lalu ada satu lagi teman yang bercerita, dia punya teman anak kimia ITB dulunya, saat di ITB IP-nya hanya sekitar 2 koma, padahal dia dulu lulusan terbaik di SMA nya. Lalu anak ini pindah ke teknik mesin suatu kampus negeri di depok dan sampai saat ini IPKnya 4 bulat!. Saya pun punya cerita, ada dua teman saya yang juga lulusan terbaik di SMA nya, satu orang dari cirebon, dia dulu peraih medali perunggu olimpiade sains nasional, satu lagi anak lampung, peringkat 31 olimpiade sains nasional, namun sayang kedua teman saya ini DO [Drop Out] dari ITB.

Adik kandung saya juga aneh, dia ikut SNMPTN 2 kali dan keduanya tidak diterima di ITB, pada akhirnya ia memilih kampus negeri lain di Bandung dan ternyata IPKnya mendekati 4. Ini segelintir contoh, ada sebenarnya contoh yang sukses juga, teman saya yang sudah lulus dari ITB lebih mudah memang hidupnya, ada yang S-2 di jepang, belanda, jerman, kerja di pertamina, unilever, cevron, biofarma, bisnis dsb.

Apa yang ingin saya pesankan kepada adik-adik yang ingin masuk perguruan tinggi? masuk perguruan tinggi bukan masalah gengsi atau kebanggaan semata, program studi dan universitas yang akan kita masuki harus sesuai dengan minat, potensi dan passion kita. Khususnya di ITB, karena jumlah mahasiswa yang diterima disini jauh lebih sedikit dibanding universitas lain dan program studinya hampir semua IPA, maka persaingan pun ketat.

Sampai bisa masuk pun belum tentu sukses, banyak contoh anak-anak yang dulu lulusan terbaik di SMA nya, juara olimpiade sains dan sebagainya, namun tidak sampai bisa lulus. Bukan karena bodoh, namun karena memang persaingan, lingkungan dan dosen yang ketat. Jangan heran bila kamu yang sekarang paling pintar di SMA, nanti pernah tidak lulus satu atau dua mata kuliah dan harus mengulang.
Pesan saya, jangan masuk S-1 ITB, jika memang tidak siap untuk bekerja keras.

Begitulah cerita salah satu alumni ITB dan untuk alumni yang lain punya cerita yang berbeda, kita tunggu tulisan dari alumni universitas-univeritas [bukan hanya ITB] yang ada di Indonesia ini untuk generasi emas Indonesia.

Video pilihan khusus untuk Anda 💗 Bagaiamana kisah sukses Cristiano Ronaldo bisa kita jadikan pelajaran yang berharga, mari kita simak;

You Might Also Like: